Agama berfungsi untuk membersihkan jiwa manusia dari sifat – sifat yang dianggap “negatif”, karena sebagai manusia biasa manusia memiliki ego yang kadang dapat merugikan makhluk lainnya, entah merugikan secara lahiriah ataupun dapat merugikan secara bathiniah, maka diperlukan agama untuk mengatur tatanan kehidupan manusia agar lebih manusiawi, dan agar kehidupan manusia lebih harmonis  di alam dunia ini.  Disebabkan karena hati manusia kadang tidak berkembang dengan baik bahkan ego “buruk” yang mendominasi, maka agama akan berfungsi sebagai pengingat agar manusia kembali kejalanNya, dan juga diberi tuntunan dalam ajaran agama tersebut agar kita dapat membersihkan ego “buruk” yang terdapat pada diri manusia, agar kehidupan di dunia ini diharapkan menjadi harmonis.

Beberapa orang ada yang beranggapan bahwa ilmu pengetahuan Tuhan sudah dituangkan seluruhnya dalam kitab suci agama yang mereka anut, hal ini juga kadang diajarkan oleh doktrin tertentu, padahal ilmu – ilmu Tuhan sangatlah banyak dan tidak ada batasnya, tidaklah mungkin ilmu – ilmu Tuhan yang sedemikian sangat banyak dan tidak ada batasnya dapat cukup dituliskan dalam sebuah kitab suci yang hanya setebal itu, walaupun cuma hanya garis besarnya saja, bahkan Al Quran mengatakan dalam salah satu ayatnya bahwa jika seluruh lautan dijadikan tintanya, dan seluruh daun di bumi ini dijadikan kertasnya, tidak akan cukup untuk menulis ilmu – ilmu Allah.

Pengetahuan yang terdapat dalam kitab – kitab suci tentu disesuaikan dengan kapasitas dan kondisi kaum yang menerimanya. Tuhan tentu maha mengetahui pengetahuan dan ajaran apa yang layak diterima oleh kaum tertentu, disebabkan oleh background mereka yang selalu berbeda.

Tuhan menurunkan ayat – ayatnya yang di rangkai dalam kitab suci oleh manusia untuk siapa saja yang mau mempelajarinya dan siapa saja boleh mengamalkannya, sesuai dengan kecocokan hati masing – masing, jadi bukan untuk di monopoli oleh agama – agama atau golongan tertentu.

Agama seharusnya juga dapat membersihkan jiwa dari sifat – sifat yang dianggap “negatif” seperti benci, iri, dengki, serakah, dll, namun kenyataannya hal ini sangat sedikit terjadi, bahkan beberapa doktrin sering mengajarkan kebencian pada pihak lain, bahkan tokoh – tokoh agamanya pun masih memiliki sifat – sifat yang dianggap “buruk” dalam hatinya, ini menunjukan ada yang kurang tepat dalam pendidikan agama,  karena bagaimana pun tokoh agama adalah panutan bagi umatnya, maka sebaiknya para tokoh agama belajar untuk membersihkan hati dan jiwanya dari sifat – sifat yang dianggap “negatif” agar tidak menulari pengikutnya. Agama sangatlah sempurna, hendaknya kesempurnaannya dapat membantu kita untuk mensucikan hati dan jiwa kita, jika kita memang benar beriman.

http://vm2insert.wordpress.com

http://vm2insert.blogspot.com

Iklan